Peran Ekonomi Makro Dalam Menggerakkan Bisnis Perusahaan

Peran Ekonomi Makro Dalam Menggerakkan Bisnis Perusahaan – Ekonomi makro atau makroekonomi adalah studi tentang ekonomi secara keseluruhan. Makroekonomi menjelaskan perubahan ekonomi yang mempengaruhi banyak masyarakat perusahaan atau bisnis, dan pasar.

Ekonomi makro dapat digunakan untuk menganalisis cara terbaik untuk memengaruhi target-target kebijaksanaan seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, tenaga kerja dan pencapaian keseimbangan neraca yang berkesinambungan.

Tujuan Ekonomi Makro Indonesia Sebagai Pilar Kesejahteraan 

Meningkatkan Pendapatan Nasional

Dengan mengetahui pendapatan nasional Indonesia, pertumbuhan ekonomi bisa terukur dengan jelas. Kebijakan ekonomi yang diambil bisa efektif dan efisien.

Meningkatkan Kapasitas Produksi

Kapasitas produksi nasional yang tumbuh dapat memengaruhi peningkatan pembangunan ekonomi di Indonesia.

Mengatasi Inflasi

Inflasi merupakan suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue), kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya

Menyeimbangkan Neraca Pembayaran Luar Negeri

Analisis ekonomi makro bertujuan juga untuk menyeimbangkan neraca pembayaran luar negeri. Neraca pembayaran luar negeri harus seimbang guna menghindari terjadinya defisit neraca pembayaran luar negeri.

Pendapatan Penduduk Yang Merata

Pendapatan yang merata ini bisa diperoleh dari hasil pengelolaan sumber daya alam maupun sumber daya manusia dalam suatu negara. Dengan meratanya pendapatan diharapkan tingkat konsumsi masyarakat menjadi lebih baik dan pertumbuhan ekonomi menjadi meningkat.

Pengaruh Ekonomi Makro Pada Suatu Bisnis

Ekonomi Makro erat hubungannya dengan masalah keuangan negara.Perubahan ekonomi pada suatu negara akan berdampak pada suatu perusahaan dan pasarnya.Ekonomi makro dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi,tenaga kerja, stabilitas suatu harga, dan pencapaian keseimbangan.

Suku Bunga Fluktuatif: Deposito Atau Reksadana Yang Lebih Menguntungkan?

Tanpa mengetahui kenaikan dan penurunan suku bunga acuan dari Bank Indonesia, sejatinya investasi deposito dan reksa dana bisa dilakukan. Apalagi di zaman digital ini, membeli produk investasi bisa melalui aplikasi mobile di dalam ponsel pintar. Namun, tak ada salahnya kita bahas sekilas pengaruh suku bunga terhadap deposito.

Pengaruh Suku Bunga Terhadap Deposito

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 15-16 Oktober 2024, memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 6,00%. Turun 25 basis poin dari suku bunga sebelumnya pada 23-24 April 2024 sebesar menjadi 6,25%.

Penurunan suku bunga acuan ini berpotensi diikuti oleh penurunan Suku Bunga Penjaminan yang ditetapkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sebaliknya, kenaikan suku bunga acuan BI berpotensi meningkatkan suku bunga deposito.
Sebagai ilustrasi, ketika suku bunga acuan masih 6,25%, bunga tertinggi deposito bank swasta mencapai 4,75% per tahun.

Selain terhadap deposito, kenaikan dan penurunan suku bunga acuan BI pun akan berpengaruh terhadap reksa dana, terutama reksa dana pasar uang. Pasalnya, reksa dana pasar uang menempatkan sebagai besar dana investor ke deposito.

Namun, karena Manajer Investasi –profesional yang mengelola reksa dana– melakukan diversifikasi reksa dana ke efek-efek lain, seperti Sertifikat Utang Negara (SUN), Sertifikat Bank Indonesia (SBI), obligasi, dan sukuk, penurunan nilai reksa dana saat suku bunga acuan BI juga turun, takkan begitu terasa.

Itulah mengapa reksa dana pasar uang dianggap sebagai salah satu produk investasi yang stabil. Lalu, Sebaiknya Pilih Deposito atau Reksadana?

Baik, kita sepakati untuk mengabaikan kenaikan dan penurunan suku bunga acuan. Karena baik deposito maupun reksa dana pasar uang sama-sama stabil dan aman, apalagi jika ditawarkan oleh bank dan manajer investasi yang sudah berizin dari Otoritas Jasa Keuangan. Akan tetapi, keduanya punya keunggulannya masing-masing.

Maksimalkan Return Investasi Anda Dengan Strategi Tepat

Return deposito sudah ditentukan di awal dan tidak akan berubah sampai jatuh tempo. Hal ini membuat investor bisa mendapatkan uang plus keuntungannya saat periode deposito berakhir.

Berbeda dengan reksa dana yang relatif turun-naik. Investor jadinya tak bisa mendapatkan bunga atau return yang tetap. Namun, potensi keuntungan reksa dana pasar uang bisa lebih besar karena adanya Manajer Investasi yang bertugas mengoptimalkan performa reksa dana dan meminimalisir risiko kerugian.

Pajak

Deposito adalah objek pajak. Keuntungan yang kamu dapatkan saat jatuh tempo nantinya akan dipotong 20%. Sebaliknya reksa dana bukan objek pajak. Keuntungan yang kamu cairkan bisa dibilang utuh tanpa potongan apa pun. Hanya memang, saat pembelian dan penjualan, biasanya ada biaya admin untuk reksa dana.

Minimal Setor

Minimal setor dana deposito relatif besar. Tidak bisa dimulai dengan ratusan ribu apalagi puluhan ribu. Sebaliknya, reksa dana dapat diperoleh dengan modal puluhan ribu saja. Hal ini bisa menjadi solusi buat investor yang punya dana terbatas tapi ingin memulai investasi.

Perlu ditambahkan di sini adalah: Fleksibilitas. Fleksibilitas antara deposito dan reksa dana bisa menjadi pisau bermata dua. Deposito kerap dianggap kurang fleksibel karena tak bisa dicairkan kapan saja. Namun, bagi siapa pun yang punya tujuan “menyelamatkan uang” agar habis tak jelas, ini dapat menjadi solusi terbaik.

Sementara reksa dana lebih fleksibel lantaran bisa dicairkan kapan saja ketika diperlukan. Contoh, ketika kebutuhan mendadak tiba-tiba datang, kita bisa menjual reksa dana dengan fitur Instant Redemption.

Bahkan. untuk tujuan jangka panjang seperti dana pensiun dan pendidikan anak reksa dana lebih bisa diandalkan lantaran kinerjanya cenderung naik seiring berjalannya waktu. Berbeda dengan deposito yang ‘hanya’ berjangka waktu setahun atau dua tahun.

Scroll to Top