Apa Sih Latte Art Itu?

Kalau Anda memesan kopi jenis Latte, tentu Anda taka sing lagi dengan suguhan foam di atas kopi yang dibentuk menjadi bermacam-macam kreasi lukisan. Ada yang berbentuk bunga, kepala hewan, kepala manusia, tulisan nama, dan masih banyak lainnya. Selain karena rasanya yang enak, terutama bagi mereka yang tak begitu suka kopi pahit, latte art atau seni latte ini tentu menjadi atraksi yang menarik. Apalagi jika Anda diberi kesempatan untuk melihat langsung proses pembuatan latte tersebut.

Latte art adalah metode mempersiapkan kopi yang dibuat dengan menuangkan susu yang telah dikukus ke dalam satu shot espresso. Cara ini akan menghasilkan pola atau desain pada permukaan latte yang dihasilkan. Selain cara tersebut, desain juga bisa dibuat dengan dengan hanya “menggambar” di lapisan atas foam. Latte art sangat sulit dibuat secara konsisten karena semuanya ditentukan oleh kondisi kopi dan susu yang digunakan.

Selain itu, pengalaman barista dan kualitas mesin espresso juga menentukan kualitas latte art yang dihasilkan. Cara penuangan yang disebutkan sebelumnya menjadi tantangan tersendiri bagi para barista dan seniman latte.

 

Sejarah Latte Art

Latte art dikembangkan secara independen di berbagai negara, setelah pengenalan espresso dan pengembangan microfoam. Semakin marak ketika kombinasi crema dan microfoam diketahui bisa menghasilkan pola. Seni ini dipercaya bermula di Italia.

Di Amerika Serikat, seni latte dikembangkan di Seattle pada 1980-an dan 1990-an, dan terutama dipopulerkan oleh David Schomer. Pada tahun 1989, Schomer’s Espresso Vivace telah populer dengan latte bentuk hatinya. Pola roset kemudian dikembangkan oleh Schomer pada tahun 1992, menciptakan teknik berdasarkan foto yang dia lihat di Cafe Mateki di Italia.

 

Teknik Latte Art

Latte art membutuhkan espresso produksi pertama dengan crema dan microfoam, yang kemudian digabungkan untuk membuat latte art. Sebelum susu ditambahkan, satu shot espresso harus memiliki permukaan coklat krem, emulsi yang dikenal sebagai crema. Karena busa/foam susu mengembang ketika bertemu dengan lapisan coklat atau merah dari shot espresso, terciptalah kontras dan desain bisa dibuat di atasnya. Jika susu dan kopinya pas, dan pitcher digerakkan selama penuangan, busa akan naik untuk membuat pola di permukaan. Atau, pola dapat terukir dengan stik setelah susu habis dituangkan.

Banyak kontroversi beredar bahwa kebanyakan barista akhirnya terlalu fokus pada latte art dan mengesampingkan hal yang lebih penting, seperti rasa misalnya.

Kalau Anda, bagaimana? Apakah latte art termasuk hal yang membuat Anda ingin ngopi? Jika ingin tahu lebih banyak tentang latte art, Anda bisa mencicipinya di beberapa café pilihan brainlisting.

 

 

Sumber: wikipedia.com

Budaya Minum Kopi di Indonesia

Sebagai negara pengekspor kopi ketiga di dunia setelah Brazil dan India, Indonesia tentu memiliki budaya minum kopi yang layak disorot. Namun, ketika membicarakan budaya Indonesia, tentu tak akan semudah membicarakan budaya Jepang, misalnya. Di sini, ada banyak suku dan ras serta agama, yang membuat budaya antar masing-masing daerah sangat berbeda.

Cara pengolahan dan adab minum kopi di Jawa mungkin akan berbeda dengan Sumatra. Ya, karena pengaruh budaya luar juga diserap dan dijadikan sebagai bumbu dalam masing-masing budaya. Menurut ahli kuliner William Wongso, budaya tertentu di Sumatera (khususnya Aceh, Medan di Sumatera Utara dan Pekanbaru di Riau) dan Kalimantan (terutama Pulau Bangka dan Pontianak di Kalimantan Barat) memiliki kesamaan dengan budaya di Singapura dan Malaysia.

Di wilayah tersebut, yang banyak dihuni oleh etnis keturunan Tionghoa, kopi biasanya dinikmati di kedai kopi tradisional. Metode populer melayani kopi di toko-toko ini adalah kopi tiam. Tiam artinya adalah kedai dalam dialek Cina Hokkien. Jadi kopi tiam artinya kedai kopi.

Di dalam kopi tiam, kopi diseduh melalui panci logam curam dengan kapas pemfilter dan disajikan dengan susu kental manis, susu cair, dan gula. Kopi tiam biasanya menggunakan biji Robusta yang dipanggang dengan minyak, margarin dan gula sampai tiga jam. Budaya kopi ini diwarisi dari nenek moyang mereka dari Hainan.

Di daerah lain seperti Aceh, minum kopi dirayakan di banyak kesempatan. Orang-orang Aceh menikmati nongkrong di kedai kopi dari pagi sampai tengah malam hanya untuk minum kopi. Budaya minum kopi di Aceh sangat kuat. Bahkan jika Anda mencari seseorang, Anda mungkin bisa menemukannya tengah nongkrong di kedai kopi.

Seperti itulah, Indonesia mempunyai banyak budaya, bahkan untuk minum kopi sekalipun.

 

 

 

Sumber: www.jakpost.travel

Perbedaan Antara Kopi Robusta dan Arabica

Jika Anda penggila kopi, tentu Anda sering mendengar kopi robusta dan arabica. Namun, mungkin tak banyak yang tau apa perbedaan di antara kedua kopi tersebut

Berikut ini adalah perbedaan mendasar antara kopi robusta dan arabica:

 

Perbedaan Rasa

Robusta memiliki rasa yang netral hingga sedikit keras, dan sering kali memiliki rasa seperti oatmeal. Kopi robusta yang tidak dipanggang memiliki aroma seperti kacang mentah. Robusta mengandung lebih banyak kafein dan memiliki kualitas di bawah arabica. Namun, ada juga robusta yang berkualitas baik dan memiliki harga yang mahal.

Sementara itu, arabica memiliki rasa yang lebih beragam, mulai dari manis hingga sangat tajam. Banyak yang memiliki rasa seperti gula, buah, dan berry. Tingkat keasamannya lebih tinggi dan kopi yang dengan keasaman yang baik terasa seperti wine.

 

Perbedaan Tempat Penanaman

Robusta dikembangkan di daerah Timur, seperti Indonesia dan Afrika.

Arabica dikembangkan di Afrika dan Papua Nugini, tapi paling dominan di America Latin.

Columbia hanya memproduksi kopi Arabica. Sementara beberapa negara, seperti Brazil, India, dan Indonesia memproduksi keduanya.

 

Perbedaan Harga

Arabica lebih mahal daripada robusta. Kebanyakan kopi yang dijual di supermarket adalah kopi robusta dan kopi instan dan murah pastilah robusta. Anda masih bisa menemukan Arabica di supermarket. Namun, hanya karena dilabeli arabica, tidak berarti bahwa kopi tersebut memiliki kualitas yang baik.

 

Jadi, Mana Kopi yang Baik?

Ketika memilih mana kopi terbaik, semua bergantung pada preferensi masing-masing. Banyak yang merasa arabica terlalu asam, tapi banyak juga yang merasa tingkat keasaman ini adalah nilai lebih yang dicari.

Yang perlu diingat adalah robusta memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi. Jika Anda diet rendah kafein, copi decaf-lah yang disarankan untuk Anda minum.

 

Cafe-cafe berikut ini pasti akan bisa membuat Anda ngeh tenta perbedaan robusta dan arabica. Namun, Anda nantinya yang akan menyimpulkan kopi yang pas untuk lidah Anda.

 

 

Sumber: www.thekitchn.com