Budaya Minum Kopi di Indonesia

Sebagai negara pengekspor kopi ketiga di dunia setelah Brazil dan India, Indonesia tentu memiliki budaya minum kopi yang layak disorot. Namun, ketika membicarakan budaya Indonesia, tentu tak akan semudah membicarakan budaya Jepang, misalnya. Di sini, ada banyak suku dan ras serta agama, yang membuat budaya antar masing-masing daerah sangat berbeda.

Cara pengolahan dan adab minum kopi di Jawa mungkin akan berbeda dengan Sumatra. Ya, karena pengaruh budaya luar juga diserap dan dijadikan sebagai bumbu dalam masing-masing budaya. Menurut ahli kuliner William Wongso, budaya tertentu di Sumatera (khususnya Aceh, Medan di Sumatera Utara dan Pekanbaru di Riau) dan Kalimantan (terutama Pulau Bangka dan Pontianak di Kalimantan Barat) memiliki kesamaan dengan budaya di Singapura dan Malaysia.

Di wilayah tersebut, yang banyak dihuni oleh etnis keturunan Tionghoa, kopi biasanya dinikmati di kedai kopi tradisional. Metode populer melayani kopi di toko-toko ini adalah kopi tiam. Tiam artinya adalah kedai dalam dialek Cina Hokkien. Jadi kopi tiam artinya kedai kopi.

Di dalam kopi tiam, kopi diseduh melalui panci logam curam dengan kapas pemfilter dan disajikan dengan susu kental manis, susu cair, dan gula. Kopi tiam biasanya menggunakan biji Robusta yang dipanggang dengan minyak, margarin dan gula sampai tiga jam. Budaya kopi ini diwarisi dari nenek moyang mereka dari Hainan.

Di daerah lain seperti Aceh, minum kopi dirayakan di banyak kesempatan. Orang-orang Aceh menikmati nongkrong di kedai kopi dari pagi sampai tengah malam hanya untuk minum kopi. Budaya minum kopi di Aceh sangat kuat. Bahkan jika Anda mencari seseorang, Anda mungkin bisa menemukannya tengah nongkrong di kedai kopi.

Seperti itulah, Indonesia mempunyai banyak budaya, bahkan untuk minum kopi sekalipun.

 

 

 

Sumber: www.jakpost.travel